BUDAYA DAN IKLIM ORGANISASI DALAM KEPEMIMPINAN

Sonhadji dalam (Soetopo:2010) menyatakan bahwa budaya organisasi adalah proses sosialisasi anggota organisasi untuk mengembangkan persepsi, nilai dan keyakinan terhadap organisasi. Sebuah penelitian mengemukakan karakteristik – karakteristik budaya organisasi antara lain adalah Inovasi dan pengambilan resiko, perhatian ke rincian, orientasi hasil, orientasi orang, orientasi tim, keagresifan. Fungsi budaya organisasi bergayut dengan fungsi eksternal dan fungsi internal. Fungsi eksternal budaya organisasi adalah untuk melakukan adaptasi diluar lingkungan organisasi, sementara fungsi internal berkaitan dengan integrasi berbagai sumber daya yang ada di dalamnya termasuk sumber daya manusia. Sedangkan tingkatan budaya organisasi ini terdiri atas tiga tingkat antara lain: a) Artifacts (artefak). Berkaitan dengan symbol-simbol, cerita, ritual dan sebagainya, b) Values (nilai-nilai). Berkaitan dengan apa yang seharusnya, apa yang tidak seharusnya dan nilai-nilai atau keyakinan yang mendukung dan c) Assumptions (asumsi-asumsi). Berkaitan dengan keyakinan mendasar tentang orang-orang atau individu-individu, pandangan mengenai sifat dasar manusia dan sebagainya.

Sedangkan untuk iklim organisasi, Litwin dan Stringer mendefinisikan iklim organisasi sebagai suatu yang dapat diukur pada lingkungan kerja baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada karyawan dan pekerjaannya dimana tempat mereka bekerja dengan asumsi akan berpengaruh pada motivasi dan perilaku karyawan. Iklim organisasi oleh Litwin dan Stringer, dijabarkan atau diukur melalui lima dimensi, yaitu responsibility (tanggung jawab), identity (identitas), warmth (kehangatan), support (dukungan) dan conflict (konflik). Ada empat faktor yang mempengaruhi iklim, yaitu a) Manajer/pimpinan. Pada dasarnya setiap tindakan yang diambil oleh pimpinan atau manajer mempengaruhi iklim dalam beberapa hal, seperti aturan-aturan, kebijakan dan prosedur organisasi; b) Tingkah laku karyawan. Tingkah laku karyawan mempengaruhi iklim melalui kepribadian mereka, terutama kebutuhan mereka dan tindakan-tindakan yang mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut; c) Tingkah laku kelompok kerja. Kelompok-kelompok berkembang dalam organisasi dengan dua cara, yaitu secara formal, utamanya pada kelompok kerja; dan informal, sebagai kelompok persahabatan atau kesamaan minat; d) Faktor eksternal organisasi. Sejumlah faktor eksternal organisasi mempengaruhi iklim pada organisasi tersebut. Keadaan ekonomi adalah faktor utama yang mempengaruhi iklim.

Dalam kaitannya dengan perilaku kepemimpinan, Mondy (Soetopo:2010) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan secara meyakinkan mempengaruhi budaya kelompok atau organisasi. Jika pemimpin menjaga jarak dengan bawahan, maka sikap semacam ini menimbulkan dampak negative terhadap organisasi. Berdasarkan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi dipengaruhi oleh perilaku kepemimpinan atau dengan kata lain perilaku kepemimpinan mempengaruhi budaya organisasi. Sedangkan untuk iklim organisasi, Owens (Soetopo:2010) mengemukakan bahwa budaya organisasi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan iklim. Lebih lanjut dijelaskan bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perasaan anggota organisasi. Berdasarkan beberapa pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi dipengaruhi oleh perilaku kepemimpinan, sementara budaya organisasi mempengaruhi iklim organisasi. Budaya organisasi yang kuat diikuti makin terbukanya iklim organisasi yang terbuka, pada gilirannya akan meningkatkan keefektifan organisasi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s